Ibukota Atlantis

Penelitian oleh Dhani Irwanto, 4 Januari 2017
Plato bercerita bahwa “dimana terdapat sebuah kota dengan benteng dan cincin perairan adalah ada di laut yang nyata didalam selat dikelilingi oleh benua tak terbatas”. Benua tak terbatas itu adalah Sundalandia yang tersambung dengan Benua Asia, dan satu-satunya laut yang dikelilingi olehnya pada masa itu adalah Laut Jawa kuno, menunjukkan bahwa pulau dan ibukotanya terletak di Laut Jawa.
Pernyataan bahwa “pulau itu terletak didekat dataran dan semua saluran bertemu di kota dan bermuara ke laut”, menunjukkan bahwa pulau itu terletak di sebelah selatan dataran, di suatu tempat yang sekarang terdapat dibawah Laut Jawa.
Lokasinya diidentifikasi oleh para pelaut sebagai Gosong Gia atau Annie Florence Reef, sebuah terumbu karang digambarkan berukuran kecil dan muncul ke permukaan saat laut surut.
Kota Atlantis adalah sebuah pulau dengan sebuah bukit kecil di tengahnya. Kota dan pulau ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama sehingga cukup bagi para rajanya untuk membangunnya. Memiliki cincin-cincin perairan dan lintasan dari laut menuju cincin terdalam. Mereka membuat jembatan diatas cincin-cincin perairan yang mengelilingi metropolis tersebut. Sebuah dinding batu dimulai di laut dan membentang berkeliling. Mereka menggunakan “orichalcum”, timah dan kuningan atau perunggu untuk menutupi dinding-dinding luar kotanya.
Terdapat sebuah bukit, yang tidak terlalu tinggi, didekat tengah pulau pusat. Di puncak pulau pusatnya, sebuah kuil dibangun untuk memuja Poseidon, yang didalamnya terdapat patung emas raksasa untuknya. Mereka membangun istana di tempat kediaman dewa-dewa dan leluhur mereka, yang terus diperindah oleh generasi-generasi setelahnya.
Seperti yang dikatakan oleh Plato, kuil Poseidon dibangun di pulau pusat yang berupa sebuah bukit, dikelilingi oleh cincin-cincin perairan. Untuk mencapai kuil ini dari cincin perairan terdalam, undakan di lereng bukit pasti diperlukan. Hal ini bisa berarti bahwa kuil ini menyerupai bangunan piramida berundak tanah dan batu, sebuah ciri budaya asli Nusantara yang disebut dengan “punden berundak”. Kuil ini juga menjadi tempat untuk memuja leluhur mereka.
Selain menhir, meja batu, dan patung-patung batu, budaya megalitik Austronesia di Nusantara memiliki bangunan piramida undakan, tanah dan batu, yang disebut dengan “punden berundak”. “Punden berundak” dianggap sebagai salah satu ciri budaya asli Nusantara. Bangunan ini terdapat dan tersebar di seluruh Nusantara sampai sejauh Polinesia.
Ungkapan “karena suatu alasan, laut di bagian itu tidak dapat dilewati dan ditembus, karena ada sebuah beting lumpur, atau tanah liat, di tempat itu” menegaskan lokasinya. Terumbu karang adalah langka di Mediterania sehingga orang Yunani dan Mesir tidak memiliki istilah tersebut, maka Plato menuliskannya sebagai “beting lumpur, atau tanah liat”. Terumbu karang tumbuh dengan baik di perairan yang hangat, dangkal, jernih, terang dan tidak tenang, dan pada permukaan keras dibawah laut, sehingga merupakan kondisi yang ideal di Laut Jawa. Hal ini ditegaskan lebih lanjut oleh ungkapan “yang disebabkan oleh penurunan pulau”, karena tumbuhnya terumbu karang disebabkan oleh kenaikan permukaan laut dalam periode glasial terakhir.
Permukaan laut terus naik sampai sekitar 6.000 tahun lalu. Karang tumbuh pada bangunan padat, bersamaan dengan sedimentasi dan proses-proses lainnya.
Saat ini terdapat sebuah terumbu karang yang dikenal dengan nama Gosong Gia atau Annie Florence Reef. Puncaknya berada sekitar 10 meter dibawah permukaan laut rata-rata, dan dasar laut di sekitarnya terdapat di kedalaman sekitar 55 meter. Bangunan kotanya masih tampak jelas dari pola terumbu karangnya. Kedalaman lautnya sangat sesuai dengan elevasi daratan sekitar 11.600 tahun lalu. Karenanya dituliskan oleh Plato sebagai “Laut pada bagian tersebut tidak dapat dilalui dan ditembus karena terdapat sebuah beting lumpur/lempung atau terumbu karang.”
Pulau Bawean di lepas pantai Laut Jawa merupakan purwarupa pulau Atlantis karena memiliki lingkungan, formasi geologi dan proses tektonik yang sama, serta letaknya berdekatan. Pulau Bawean dan Atlantis keduanya terletak pada sebuah busur geologi yang diidentifikasi oleh para ahli geologi sebagai Busur Bawean. Dijelaskan bahwa “mereka memiliki mata air, yang satu dingin dan lainnya panas”. Terdapat beberapa sumber air panas dan dingin di Pulau Bawean yang dihasilkan oleh kegiatan tektonik di wilayah tersebut.
Deskripsi “batu-batu itu digali dari pulau pusat dan zona-zona, dengan warna putih, hitam dan merah” dan “dilubangi menjadi galangan ganda, yang memiliki atap terbentuk dari batuan asli” juga sesuai. Batu-batu itu rupanya mirip dengan batuan beku yang terdapat di Pulau Bawean yang putih bersifat asam, hitam abu-abu bersifat basa dan merah dari oksida besi. Batuan beku ini keras dan kuat, memiliki kekuatan alam yang cukup untuk berdiri sebagai atap galangan yang dilubangi.
***
Hak cipta © 2015-2017, Dhani Irwanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar